Surat Noura_Untuk Fahri_Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy
Kepada
Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa
dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia
Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera
para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi
embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci
air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya.
Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam
segala musim dan peristiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk
mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau
baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium
telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Sejak aku kehilangan
rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa
kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa
simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku
ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Ketika orang-orang di sekitarku
nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada
diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang
sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak
memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau
mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa
yang saat ini kudera dalam relung jiwa.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Malam itu aku mengira aku akan jadi
gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris
mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada
kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku,
datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan
malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti
kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya.
Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku
yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?
Maria malah menangis dan memelukku
erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani
turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya
dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan
datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air
mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau
mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis
jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal
baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan
air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini
jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau
memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu
Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria
membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan
dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia
sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku
atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku
merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Anggaplah saat ini aku sedang mencium
kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan
mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi
abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda
rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan
manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan
dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut
dijadikan santapan serigala.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Sebenarnya aku merasa tiada pantas
sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap
detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu
menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa
dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Dalam hatiku, keinginanku sekarang
ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan,
tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku
ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya,
kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih
dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku
berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu
aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan,
ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku
sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup
tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu
menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini
aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh
dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai
bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini
angin dan tembok bisa berbicara.
Wahai orang yang lembut hatinya,
Apakah aku salah menulis ini semua?
Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu
menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang
dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada
seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu
dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada
yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku
harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun.
Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap
kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.
Doakan Allah mengampuni diriku.
Maafkan atas kelancanganku.
Wassalamu’alaikum,
Yang dirundung nestapa,
Noura