💚💛 Lelaki yang Menunggu Syahadatku _ bagian 1
“Aku
ingin mengenal Allah.” kataku padanya, lelaki bernama Muhammad Iqbal
yang berada di sampingku. Dia tak langsung menanggapi. Kulirik dia,
pandangannya lurus ke depan melihat senja, pandanganku tak pernah
bertemu pandangannya. Hanya aku saja yang sering melihatnya, dia!? Kalau
tak karena keadaan yang memaksa, dia tak kan melihat dan berpandangan
denganku.
“Allah,”
dia mulai membuka suara, kulihat semakin jelas wajah penatnya.. namun
wajah itu tetap meneduhkan. Dia sangatlah lelah sekarang, setelah pulang
sekolah ia langsung bekerja. Namun dia tetap saja mau kuajak melihat
senja di pantai dekat tempatnya bekerja. “Allah, Dia sangat dekat
denganmu, Titan.” Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Itulah
kalimatnya, bahasa iman dengan logat tak bersahabatnya. Singkat. Sinis.
Menenangkan.
Aku
sudahi untuk berbicara. Hanya itu saja dialog antara kami selama
pertemuan itu. Aku dengannya hanya menghabiskan sisa waktu pertemuan itu
dengan diam, hening, diiringi suara ombak, suara burung dan dedaunan
pohon yang bergemerisik diterpa angin. Mereka mungkin juga menikmati
cahaya jingga di langit itu, lukisan Tuhan yang begitu mempesona
menurutku. Ketika sinar matahari tak terlihat lagi dan hanya ada
remang-remang karena lampu penerangan di pantai itu sedikit redup, dia
menyuruhku pulang. Tak bisakah kita bersama sedikit lama lagi? Ada yang
ingin kuceritakan. Hatiku memohon.
Aku
tahu dengan baik, dia selalu tak nyaman ketika berduaan denganku.
Karena Tuhannya tidak menyukai, itu anggapannya dan aku tahu itu. Kadang
aku merasa tersanjung, lebih tepatnya merasa beruntung karena akulah
satu-satunya teman perempuannya yang sering berbicara dan mendengar
suaranya. Kupikir dia mulai goyah dengan prinsipnya, namun setelah
kupikir ulang ternyata selalu ada jarak tegas yang dibentang lelaki
arogant itu ketika kami berkomunikasi di tempat umum, pun ketika hanya
ada kami berdua seperti sekarang ini.
‘Lelaki
Shalih’ teman-teman perempuan ku menggelari lelaki ini. Waktu pertama
kali mendengarnya, istilah itu takku mengerti. Namun setelah mengenal
lelaki ini, sekarang aku tahu arti gelarnya. Shalih itu, seorang yang
pandai mencintai Tuhannya.
Ada
rasa yang belum kumengerti seiring kehadiran lelaki ini. Rasa yang
membuatku banyak berubah, rasa yang menimbulkan kenyamanan. Mungkin ini
terlalu dini untuk membuat suatu kesimpulan bahwa, aku mencintai lelaki
ini disebabkan oleh sesuatu yang belum kuketahui. Mungkin karena
kedewasaannya, atau karena dia yang memahami dan menyayangi anak-anak,
atau mungkin karena kejeniusannya. Entahlah..
Aku
mencintai lelaki ini, lelaki yang mengasihaniku karena tak mempercayai
adanya Tuhan. Mengasihani. Ya, dia mengasihaniku. Itulah sebabnya ia mau
berhubungan denganku. Walaupun banyak komentar negatif yang diterimanya
dari teman-temannya, karena akrab dengan perempuan sepertiku, maksudku
perempuan non Muslim. Dan tak hanya karena disebabkan ketidakpercayaanku
terhadap adanya Tuhan saja ia mengasihaniku, namun aku juga tahu dan
tak menyangkal, dia juga mengasihaniku karena keadaanku yang tak
mempunyai orang tua.
“Muhammad!”
panggilku menghentikan langkahnya yang sudah meninggalkanku. “Seli
titip salam. Dia sering menunggumu di gerbang Panti. Dia ingin
diceritakan lagi kisah Wahid prajurit terhebat Nabi Muhammad.” Kata ku
menyampaikan salam seorang adik di Panti Asuhan ketika kami hendak
berpisah. Aku menyangka dia hanya akan tersenyum dan kembali bekerja
setelah mendengarku, namun dia mengatakan sesuatu.
“Kamu
mempercayai nabi Muhammad itu utusan Tuhan?” aku senang mendengar
suaranya, walaupun kalimatnya kadang sulit dimengerti, spontan, kejam,
halus, flegmatis. Membuat diri ini merasakan berbagai keadaan, seperti
tertampar, tersentuh, menangis, bingung, tapi sekaligus kenyamanan ia
timbulkan. Hanya dari kalimat-kalimat sinisnya. Atau juga dari lafas
bacaan firman Tuhannya yang sering ia baca menggunakan pengeras suara di
Mushala sekolah, rutin kusimak tiap hari di sekolah. Entah kenapa
suaranya sangat menenangkan, kadang tanpa kusadari aku meneteskan air
mata karenanya. Aneh.
Aku
hampir saja menjawab pertanyaannya. Tapi sepertinya dia tak ingin
mendengar jawabanku. Karena jawabanku mungkin akan mengecewakannya.
Dengar, dia mengatakan sesuatu lagi.
“Kutunggu
syahadatmu, Titan.” Kalimatnya lagi. Syahadat? Syahadat.. Tak mungkin
aku menghentikan langkah tegapnya yang sudah meninggalkanku untuk
dimintai penjelasan mengenai makna syahadat itu. Makna syahadat sedikit
banyak aku ketahui, namun sesuatu yang berbeda selalu akan kudapati dari
mulut lelaki arogan itu.
Ada
hal yang belum tersampaikan, tujuanku menemuinya adalah untuk itu,
mengabarkan sesuatu yang mungkin mengejutkannya. Ini mungkin bukan
pilihan yang sulit bagiku, namun entah kenapa dada ini terasa sesak
ketika menyadari pilihan yang kuambil ini akan menjauhkanku dengan
lelaki itu. Sebenarnya hanya itu yang membuat ini terasa berat, lelaki
itu. Aku tak ingin jauh darinya.
Bersambung..
