Selasa, 11 April 2017


“Aku ingin mengenal Allah.” kataku padanya, lelaki bernama Muhammad Iqbal yang berada di sampingku. Dia tak langsung menanggapi. Kulirik dia, pandangannya lurus ke depan melihat senja, pandanganku tak pernah bertemu pandangannya. Hanya aku saja yang sering melihatnya, dia!? Kalau tak karena keadaan yang memaksa, dia tak kan melihat dan berpandangan denganku.

“Allah,” dia mulai membuka suara, kulihat semakin jelas wajah penatnya.. namun wajah itu tetap meneduhkan. Dia sangatlah lelah sekarang, setelah pulang sekolah ia langsung bekerja. Namun dia tetap saja mau kuajak melihat senja di pantai dekat tempatnya bekerja. “Allah, Dia sangat dekat denganmu, Titan.” Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Itulah kalimatnya, bahasa iman dengan logat tak bersahabatnya. Singkat. Sinis. Menenangkan.

Aku sudahi untuk berbicara. Hanya itu saja dialog antara kami selama pertemuan itu. Aku dengannya hanya menghabiskan sisa waktu pertemuan itu dengan diam, hening, diiringi suara ombak, suara burung dan dedaunan pohon yang bergemerisik diterpa angin. Mereka mungkin juga menikmati cahaya jingga di langit itu, lukisan Tuhan yang begitu mempesona menurutku. Ketika sinar matahari tak terlihat lagi dan hanya ada remang-remang karena lampu penerangan di pantai itu sedikit redup, dia menyuruhku pulang. Tak bisakah kita bersama sedikit lama lagi? Ada yang ingin kuceritakan. Hatiku memohon.

Aku tahu dengan baik, dia selalu tak nyaman ketika berduaan denganku. Karena Tuhannya tidak menyukai, itu anggapannya dan aku tahu itu. Kadang aku merasa tersanjung, lebih tepatnya merasa beruntung karena akulah satu-satunya teman perempuannya yang sering berbicara dan mendengar suaranya. Kupikir dia mulai goyah dengan prinsipnya, namun setelah kupikir ulang ternyata selalu ada jarak tegas yang dibentang lelaki arogant itu ketika kami berkomunikasi di tempat umum, pun ketika hanya ada kami berdua seperti sekarang ini.

‘Lelaki Shalih’ teman-teman perempuan ku menggelari lelaki ini. Waktu pertama kali mendengarnya, istilah itu takku mengerti. Namun setelah mengenal lelaki ini, sekarang aku tahu arti gelarnya. Shalih itu, seorang yang pandai mencintai Tuhannya.

Ada rasa yang belum kumengerti seiring kehadiran lelaki ini. Rasa yang membuatku banyak berubah, rasa yang menimbulkan kenyamanan. Mungkin ini terlalu dini untuk membuat suatu kesimpulan bahwa, aku mencintai lelaki ini disebabkan oleh sesuatu yang belum kuketahui. Mungkin karena kedewasaannya, atau karena dia yang memahami dan menyayangi anak-anak, atau mungkin karena kejeniusannya. Entahlah..

Aku mencintai lelaki ini, lelaki yang mengasihaniku karena tak mempercayai adanya Tuhan. Mengasihani. Ya, dia mengasihaniku. Itulah sebabnya ia mau berhubungan denganku. Walaupun banyak komentar negatif yang diterimanya dari teman-temannya, karena akrab dengan perempuan sepertiku, maksudku perempuan non Muslim. Dan tak hanya karena disebabkan ketidakpercayaanku terhadap adanya Tuhan saja ia mengasihaniku, namun aku juga tahu dan tak menyangkal, dia juga mengasihaniku karena keadaanku yang tak mempunyai orang tua.

“Muhammad!” panggilku menghentikan langkahnya yang sudah meninggalkanku. “Seli titip salam. Dia sering menunggumu di gerbang Panti. Dia ingin diceritakan lagi kisah Wahid prajurit terhebat Nabi Muhammad.” Kata ku menyampaikan salam seorang adik di Panti Asuhan ketika kami hendak berpisah. Aku menyangka dia hanya akan tersenyum dan kembali bekerja setelah mendengarku, namun dia mengatakan sesuatu.

“Kamu mempercayai nabi Muhammad itu utusan Tuhan?” aku senang mendengar suaranya, walaupun kalimatnya kadang sulit dimengerti, spontan, kejam, halus, flegmatis. Membuat diri ini merasakan berbagai keadaan, seperti tertampar, tersentuh, menangis, bingung, tapi sekaligus kenyamanan ia timbulkan. Hanya dari kalimat-kalimat sinisnya. Atau juga dari lafas bacaan firman Tuhannya yang sering ia baca menggunakan pengeras suara di Mushala sekolah, rutin kusimak tiap hari di sekolah. Entah kenapa suaranya sangat menenangkan, kadang tanpa kusadari aku meneteskan air mata karenanya. Aneh.

Aku hampir saja menjawab pertanyaannya. Tapi sepertinya dia tak ingin mendengar jawabanku. Karena jawabanku mungkin akan mengecewakannya. Dengar, dia mengatakan sesuatu lagi.
“Kutunggu syahadatmu, Titan.” Kalimatnya lagi. Syahadat? Syahadat.. Tak mungkin aku menghentikan langkah tegapnya yang sudah meninggalkanku untuk dimintai penjelasan mengenai makna syahadat itu. Makna syahadat sedikit banyak aku ketahui, namun sesuatu yang berbeda selalu akan kudapati dari mulut lelaki arogan itu.

Ada hal yang belum tersampaikan, tujuanku menemuinya adalah untuk itu, mengabarkan sesuatu yang mungkin mengejutkannya. Ini mungkin bukan pilihan yang sulit bagiku, namun entah kenapa dada ini terasa sesak ketika menyadari pilihan yang kuambil ini akan menjauhkanku dengan lelaki itu. Sebenarnya hanya itu yang membuat ini terasa berat, lelaki itu. Aku tak ingin jauh darinya.

Bersambung..

Hafshah Myosotis Sylvatica . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates